BASIC LIFE SUPPORT ( PART I )

Author: mbah jito OK la..yaw // Category:

Bakti Endharto Yora 04.07.1702

Bantuan Hidup Dasar meliputi penilaian terhadap gejala dan tanda Henti Jantung Mendadak (Sudden Cardiac Arrest), serangan jantung, Stroke, dan Sumbatan jalan napas oleh benda asing; Resusitasi jantung paru (RJP); dan defibrilasi dengan menggunakan automated external defibrilator (AED). Pelajaran ini diperuntukkan bagi penolong awam dan petugas kesehatan. Henti jantung mendadak merupakan penyebab kematian utama di Amerika serikat dan Kanada. Irama jantung yang pertama kali terlihat, sebanyak > 40% pada korban diluar rumah sakit dengan henti jantung mendadak adalah Fibrilasi Ventrikel. Pada kenyataannya banyak korban pada awal kejadian henti jantung mendadak irama jantungnya adalah Fibrilasi Ventrikel atau Takikardi Ventrikel, tetapi dengan berjalannya waktu irama pertama yang terlihat telah berubah menjadi asistol. Banyak korban henti jantung mendadak dapat tertolong jika penolong melakukan sesuatu (RJP) dengan cepat selama irama jantung masih fibrilasi ventrikel, tetapi keberhasilan resusitasi tidak akan pemah terjadi jika irama telah berubah menjadi asistol. Pengobatan henti jantung mendadak dengan fibrilasi ventrikel adalah penolong segera melakukan RJP dengan dilakukan defibrilasi. Penyebab henti jantung mendadak dapat disebabkan oleh trauma, overdosis obat, tenggelam, dan asfiksia pada anak-anak, RJP dengan melakukan kompresi dan bantuan pernapasan harus dilakukan pada korban tersebut. AHA menggunakan 4 buah lingkaran dalam sebuah rantai (the “Chain of Survival") untuk mengilustrasikan pentingnya tindakan dalam menolong korban dengan henti jantung mendadak dengan fibrilasi ventrikel.

Periksa Kesadaran

Setelah penolong yakin bahwa lingkungan telah aman, penolong harus memeriksa kesadaran korban. Cara melakukan menilaian kesadaran, tepuk atau goyangkan korban pada bahunya sambil berkata " Apakah Anda baik-baik saja?" jika korban ternyata bereaksi tetapi dalam keadaan terluka atau perlu pertolongan medis, tinggalkan korban segera mencari bantuan atau menelepon ambulance, kemudian kembali sesegera mungkin dan selalu menilai kondisi korban.

Mengaktifkan sistem gawat darurat

Jika penolong seorang diri menemukan korban yang tidak sadar (tidak ada pergerakan atau tidak bereaksi terhadap rangsangan), penolong harus mengaktifkan sistem gawat darurat, ambil AED (jika tersedia), dan kembali ke korban untuk melakukan RJP dan mempergunakan AED jika diperlukan. Jika ada 2 atau lebih penolong, salah satu penolong memulai RJP dan penolong lainnya mengaktifkan sistem gawat darurat serta mengambil AED (jika tersedia). Jika keadaan gawat darurat terjadi didalam gedung yang telah mempunyai sistem Gawat Darurat sendiri, segera memberitahukan untuk melakukan pertolongan. Petugas kesehatan dapat menyesuaikan rangkaian pertolongan sesuai dengan penyebab henti jantungnya. Jika seorang petugas kesehatan seorang diri melihat seorang dewasa atau anak-anak mendadak pingsan, serta kemungkinan pingsan tersebut disebabkan oleh gangguan jantung, maka petugas kesehatan segera mencari bantuan dan mengambil AED serta kembali ke korban untuk melakukan RJP dan menggunakan AED. Jika petugas kesehatan seorang diri menolong korban yang tenggelam atau korban lain yang disebabkan oleh Asfiksia untuk semua usia, petugas kesehatan harus melakukan 5 siklus (kurang lebih 2 menit) RJP sebelum meninggalkan korban untuk mengaktifkan sistem gawat darurat. Ketika meminta bantuan pertolongnn, penolong harus dapat menjawab pertanyaan dari petugas gawat darurat tentang lokasi kejadian, penyebabnya, jumlah dan kondisi korban, dan jenis pertolongan yang akan diberikan.

Buka jalan nafas dan Periksa Pernafasan

Untuk persiapan tindakan RJP, letakan korban pada alas atau tempat yang keras dalam keadaan terlentang, jika korban yang tidak sadar dalam keadaan tengkurap, putar korban keposisi terlentang. Jika pasien di rumah sakit dengan menggunakan Advanced Airway (ETT, Laryngeal mask airway (LMA) atau esophageal tracheal combitube (combitube) tidak dapat ditempatkan pada posisi terlentang (misalnya pada Operasi Tulang Belakang), petugas kesehatan dapat melakukan RJP dengan posisi pasien tengkurap.

Buka jalan Nafas

Petugas kesehatan menggunakan manuever tengadah kepada topang dagu (head till-chin lift manuver) untuk membuka jalan napas untuk korban yang tidak mengalami cedera kepala dan leher. Jika petugas kesehatan memperkirakan adanya trauma pada tulang belakang, membuka jalan napas dengan mempergunakan tehnik Jaw Thrust tanpa ekstensi kepala. Dikarenakan membuka jalan napas dan pemberian pernapasan yang adekuat adalah prioritas utama pada RJP , maka pergunakan tehnik tengadah kepala topang dagu jika tehnik Jaw Thrust tidak berhasil membuka jalan napas.

Periksa Pernafasan


Sambil mempertahankan terbukanya jalan napas, lakukan tehnik lihat, dengar dan rasakan untuk memeriksa pernapasan. Jika penolong awam dan tidak yakin dapat menilai pernapasan normal atau jika petugas kesehatan tidak mendeteksi pernapasan yang adekuat selama 10 detik, berikan 2 kali bantuan pernapasan. Jika penolong awam dan petugas kesehatan segan (tidak mau melakukan) atau tidak dapat memberikan bantuan pernapasan, mulailah kompresi dada. Petugas kesehatan sama dengan penolong awam dapat terjadi kesalahan dalam menilai pernapasan pada korban yang tidak sadar, karena jalan napas tidak terbuka atau korban dalam keadaan gasping (napas satu-satu), dimana dapat terjadi pada menit pertama setelah henti jantung mendadak dan dapat keliru dengan pernapasan adekuat. Pernapasan gasping (napas satu-satu) tidak efektif, korban harus diberikan bantuan pernapasan jika tidak bernapas. Pelatihan RJP harus dapat menekankan pentingnya mengenal pernapasan gasping dan memberikan perintah untuk memberikan bantuan pernapasan dan memulai rangkaian RJP ketika korban tidak sadar memperlihatkan pernapasan gasping.

Sumber:
http://nursingart.blogspot.com/2008/09/keperawatan-kritis-bantuan-hidup-dasar.html
Label : Phone Cell Wallpapers Game Phone Free Games Free car body design

Terapy Ikan

Author: mbah jito OK la..yaw // Category:

Fish Therapy

Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, ada baiknya Anda memperhatikan kebersihan dan kesehatan kolam. Apakah kolam memiliki sistem filter yang baik? Bagaimana prosedur yang harus dilewati sebelum mencoba terapi ini? Sebaiknya, tersedia kolam khusus bagi penderita penyakit kulit tertentu yang tidak tergabung dengan kolam umum sehingga tidak menulari penyakit.

Sebelum mulai memasukkan kaki ke dalam kolam, kaki akan dibersihkan terlebih dahulu. Tujuannya agar kaki bersih dari debu, lotion atau zat kimia lainnnya yang dapat membuat ikan mabuk atau tidak mau mendekati kaki Anda. Pertama kali memasukkan kaki, Anda akan merasakan geli akibat "serbuan" ikan ini. Selanjutnya, Anda juga dapat merasakan seperti tersengat setrum kecil. Ikan kecil ini memang senang memakan sel kulit mati. Tetapi, karena jenis ikan ini tidak mempunyai gigi, maka tidak akan berbahaya dan melukai kaki Anda. Sebaliknya, Anda akan merasakan rasa geli karena diisap ikan ini. Mereka akan terus menempel pada kaki Anda sambil terus menerus memakan sel kulit mati.

Walaupun ikan ini senang makan kulit mati manusia, tetapi mereka juga diberi makanan ikan lainnya dan vitamin agar tetap sehat. Ini dilakukan agar ikan tetap sehat.

Garra rufa

Ikan Garra rufa aslinya hidup di sungai-sungai di negara Timur Tengah seperti di Turki, Syria, Iran dan Irak. Umurnya 4 sampai 6 tahun dengan panjang maksimal 12 cm. Tetapi, ikan yang digunakan untuk terapi adalah ikan yang masih kecil yang berumur 3-6 bulan, umumnya memiliki panjang 1,5 hingga 2 cm. Ikan ini dapat hidup pada air dengan suhu 0 hingga 43 derajat Celcius.

Pada masyarakat Turki, spa bersama ikan ini sudah dikenal sejak 200 tahun yang lalu. Tetapi, fish therapy ini baru marak dikenal di Asia, Eropa dan Amerika sejak tahun 2006. Pada awal penemuannya, ikan ini disangka sebagai ikan pemakan daging. Pada waktu itu, saat sekelompok orang berada di sungai Kangal, Turki, ikan-ikan ini mengerubungi kaki mereka. Tetapi, mereka tidak mendapati kaki mereka terluka bahkan mereka merasakan tubuh mereka terasa lebih segar. Itulah, awal mulanya sehingga ikan ini akhirnya dijadikan salah satu terapi untuk menyembuhkan penyakit.

Manfaat Fish Spa

Karena memakan sel kulit mati yang ada, maka kaki Anda akan lebih bersih, terasa lebih halus dan dipercaya dapat mengobat penyakit kulit tertentu seperti eksem kering dan psoriasis (kulit merah dan bersisik). Saat menghisap kulit mati, ikan Garra rufa juga akan mengeluarkan air liur yang mengandung sejenis enzim dithranol (anthralin) yang akan merangsang pertumbuhan sel kulit baru. Manfaatnya, akan mengurangi rasa gatal pada kulit dan menyamarkan noda bekas luka.

Selain untuk kecantikan dan kesehatan kulit, ikan ini juga dapat memberikan efek positif lainnya untuk tubuh. Saat ikan-ikan ini menyedot kaki kita, kaki akan merasakan setruman-setruman kecil yang dihasilkan dari kerumunan ikan yang dapat merangsang titik-titik akupuntur pada telapak kaki dan membuat sirkulasi darah menjadi lancar. Agar mendapatkan hasil yang maksimal, terapi hendaknya dilakukan secara teratur 2 sampai 3 kali seminggu selama 3 bulan.

Melihat ikan yang berlarian dan sigap menyedot kulit mati dapat membuat perasaan rileks. Belum lagi rasa geli akibat isapan mulut ikan-ikan kecil ini. Anda pasti dapat merasakan perasaan nyaman yang akan membuat Anda santai.

Jadi, selain kesehatan fisik, kesehatan dan ketenangan pikiran juga dapat Anda nikmati. Pada tempat spa tertentu, Anda tidak hanya dapat memasukkan kaki saja untuk diserbu ikan Garra rufa, tetapi Anda dapat mencoba untuk berendam seluruh badan sambil merasakan sedotan lembut bayi ikan Garra rufa ini. Berniat mencobanya?

Sumber:

http://kumpulan.info/sehat/artikel-kesehatan/48-artikel-kesehatan/229-fish-spa-dengan-garra-rufa.html

BAKTI ENDHARTO YORA

04.07.1702


Label : Phone Cell Wallpapers Game Phone Free Games Free car body design

BPH (BENIGNA PROSTAT HIPERTROPI)

Author: mbah jito OK la..yaw // Category:
AYU RAI DEVI YANTHI
04.07.1701
D/KP/VI

BENIGNA PROSTAT HYPERTROPI (BPH)


PENGERTIAN
BPH (Benigna Prostat Hyperplasi) adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat yang dapat menyebabkan obstruksi dan ristriksi pada jalan urine (urethra).

ETIOLOGI
Mulai ditemukan pada umur kira-kira 45 tahun dan frekuensi makin bertambah sesuai dengan bertambahnya umur, sehingga diatas umur 80 tahun kira-kira 80 % menderita kelainan ini.
Sebagai etiologi sekarang dianggap ketidakseimbangan endokrin. Testosteron dianggap mempengaruhi bagian tepi prostat, sedangkan estrogen (dibuat oleh kelenjar adrenal) mempengaruhi bagian tengah prostat.

TANDA DAN GEJALA
Walaupun hyperplasi prostat selalu terjadi pada orangtua, tetapi tidak selalu disertai gejala-gejala klinik.
Gejala klinik terjadi terjadi oleh karena 2 hal, yaitu :
1.Penyempitan uretra yang menyebabkan kesulitan berkemih.
2.Retensi air kemih dalam kandung kemih yang menyebabkan dilatasi kandung kemih, hipertrofi kandung kemih dan cystitis.

Gejala klinik dapat berupa :
  • Frekuensi berkemih bertambah
  • Berkemih pada malam hari.
  • Kesulitan dalam hal memulai dan menghentikan berkemih.
  • Air kemih masih tetap menetes setelah selesai berkemih.
  • Rasa nyeri pada waktu berkemih.
  • Kadang-kadang tanpa sebab yang diketahui, penderita sama sekali tidak dapat berkemih sehingga harus dikeluarkan dengan kateter.
Selain gejala-gejala di atas oleh karena air kemih selalu terasa dalam kandung kemih, maka mudah sekali terjadi cystitis dan selanjutnya kerusakan ginjal yaitu hydroneprosis, pyelonefritis.

PATOFISIOLOGI
BPH terjadi pada umur yang semakin tua (> 45 tahun ) dimana fungsi testis sudah menurun. Akibat penurunan fungsi testis ini menyebabkan ketidakseimbangan hormon testosteron dan dehidrotesteosteron sehingga memacu pertumbuhan / pembesaran prostat.
Makrokospik dapat mencapai 60 - 100 gram dan kadang-kadang lebih besar lagi hingga 200 gram atau lebih.
Tonjolan biasanya terdapat pada lobus lateralis dan lobus medius, tetapi tidak mengenai bagian posterior dari pada lobus medialis, yaitu bagian yang dikenal sebagai lobus posterior, yang sering merupakan tempat berkembangnya karsinoma (Moore)
Tonjolan ini dapat menekan urethra dari lateral sehingga lumen urethra menyerupai celah, atau menekan dari bagian tengah. Kadang-kadang penonjolan itu merupakan suatu polip yang sewaktu-waktu dapat menutup lumen urethra.
Pada penampang, tonjolan itu jelas dapat dibedakan dengan jaringan prostat yang masih baik. Warnanya bermacam-macam tergantung kepada unsur yang bertambah.
Apabila yang bertambah terutama unsur kelenjar, maka warnanya kung kemerahan, berkonsistensi lunak dan terbatas tegas dengan jaringan prostat yang terdesak, yang berwarna putih keabu-abuan dan padat. Apabila tonjolan itu ditekan maka akan keluar caiaran seperti susu.
Apabila unsur fibromuskuler yang bertambah, maka tonjolan berwarna abu-abu padat dan tidak mengeluarkan cairan seperti halnya jaringan prostat yang terdesak sehingga batasnya tidak jelas.
Gambaran mikroskopik juga bermacam-macam tergantung pada unsur yang berproliferasi. Biasanya yang lebih banyak berproliferasi ialah unsur kelenjar sehingga terjadi penambahan kelenjar dan terbentuk kista-kista yang dilapisi oleh epitel torak atau koboid selapis yang pada beberapa tempat membentuk papil-papil ke dalam lumen. Membran basalis masih utuh.
Kadang-kadang terjadi penambahan kelenjar yang kecil-kecil sehingga menyerupai adenokarsinoma. Dalam kelenjar sering terdapat sekret granuler, epitel yang terlepas dan corpora anylacea.
Apabila unsur fibromuskuler yang bertambah, maka terjadi gambaran yang terjadi atas jaringan ikat atau jaringan otot dengan kelenjar-kelenjar yang letaknya saling berjauhan. Gambaran ini juga dinamai hiperplasi fibrimatosa atau hiperplasi leiomymatosa.

Pada jaringan ikat atau jaringan otot biasanya terdapat serbukan limfosit.
Selain gambaran di atas sering terdapat perubahan lain berupa :
1.Metaplasia skwamosa epitel kelenjar dekat uretra.
2.Daerah infark yang biasanya kecil-kecil dan kadang-kadang terlihat di bawah mikroskop.
Tanda dan gejala dari BPH adalah dihasilkan oleh adanya obstruksi jalan keluar urin dari kandung kemih
Ada tiga cara pengkuran besarnya hipertropi prostat :

Rectal Grading, yaitu dengan rectal toucher diperkirakan berapa cm prostat yang menonjol ke dalam lumen rektum yang dilakukan sebaiknya pada saat buli-buli kosong.
Gradasi ini adalah :
0 - 1 cm : grade 0
1 - 2 cm : grade 1
2 - 3 cm : grade 2
3 - 4 cm : grade 3
> 4 cm : grade 4
Pada grade 3 - 4 batas prostat tidak teraba. Prostat fibrotik, teraba lebih kecil dari normal.

Clinical Grading, dalam hal ini urine menjadi patokan. Pada pagi hari setelah bangun pasien disuruh kencing sampai selesai, kemudian di masukan kateter ke dalam buli-buli untuk mengukur sisa urine.
Sisa urine 0 cc : normal
Sisa urine 0-50 cc : grade 1
Sisa urine 50-150 cc : grade 2
Sisa urine > 150 cc : grade 3
Tidak bisa kencing : grade 4

Intra Uretral Grading, dengan alat perondoskope dengan diukur / dilihat bebrapa jauh penonjolan lobus lateral ke dalam lumen uretra.


Grade I :
Clinical grading sejak berbulan-bulan, bertahun-tahun, mengeluh kalau kencing tidak lancar, pancaran lemah, nokturia.

Grade II :
Bila miksi terasa panas, sakit, disuria.
Grade III :
Gejala makin berat
Grade IV :
Buli-buli penuh, disuria, overflow inkontinence. Bila overflow inkontinence dibiarkan dengan adanya infeksi dapat terjadi urosepsis berat. Pasien menggigil, panas 40-41° celsius, kesadaran menurun.

Komplikasi :
Urinary traktus infection
Retensi urin akut
Obstruksi dengan dilatasi uretra, hydronefrosis dan gangguan fungsi ginjal.

Bila operasi bisa terjadi :
  • Impotensi (kerusakan nevron pudendes)
  • Hemoragic paska bedah
  • Fistula
  • Striktur paska bedah
  • Inkontinensia urin

PEMERIKSAAN FISIK
Urinolisis
Urine kultur
Pemeriksaan fisik



PENATALAKSANAAN
Konservatif
Obat-obatan : Antibiotika, jika perlu.
Self Care :
Kencing dan minum teratur.
Rendam hangat, seksual intercourse

Pembedahan
Retropubic Prostatectomy
Perineal Prostatectomy
Suprapubic / Open Prostatectomy
Trans Uretrhal Resectio (TUR), yaitu : Suatu tindakan untuk menghilangkan obstruksi prostat dengan menggunakan cystoscope melalui urethra. Tindakan ini dlakukan pada BPH grade I.
Kontraindikasi tindakan pembedahan :
Orangtua dengan :
  • Decompensasi kordis
  • Infark jantung baru
  • Diabetes militus
  • Malnutrisi berat
  • Dalam keadaan koma
  • Tekanan darah sistol 200 - 260 mmHg.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pasien post TUR Prostat :
  • Drainase urine, meliputi : kelancaran, warna, jumlah, cloting.
  • Kebutuhan cairan : minum adekuat (± 3 liter/hari)
  • Program “Bladder Training” yaitu latihan kontraksi otot-otot perineal selama 10 menit, dilakukan 4 kali sehari.
  • Dan menentukan jadwal pengosongan kandung kemih: Bokong pasien diletakkan di atas stekpan / pispot atau pasien diminta ke toilet selama 30 menit - 2 jam untuk berkemih.
  • Diskusikan pemakaian kateter intermiten.
  • Monitor timbul tanda-tanda infeksi (Kalor, Dolor, Rubor, Tumor, Fungsilaesa)
  • Rawat kateter secara steril tiap hari. Pertahankan posisi kateter, jangan sampai tertekuk.
  • Jelaskan perubahan pola eliminasi dan pola seksual.
  • Fungsi normal kandung kemih akan kembali dalam waktu 2 -3 minggu, namun dapat juga sampai 8 bulan yang perlu diikuti dengan latihan perineal / Kegel Exercise.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1.Sirkulasi :
Peningkatan tekanan darah (efek lebih lanjut pada ginjal )
2.Eliminasi :
Penurunan kekuatan / kateter berkemih.
Ketidakmampuan pengosongan kandung kemih.
Nokturia, disuria, hematuria.
Duduk dalam mengosongkan kandung kemih.
Kekambuhan UTI, riwayat batu (urinary stasis).
Konstipasi (penonjolan prostat ke rektum)
Masa abdomen bagian bawah, hernia inguinal, hemoroid (akibat peningkatan tekanan abdomen pada saat pengosongan kandung kemih)
3.Makanan / cairan:
Anoreksia, nausea, vomiting.
Kehilangan BB mendadak.
4.Nyeri / nyaman :
Suprapubis, panggul, nyeri belakang, nyeri pinggang belakang, intens (pada prostatitis akut).
5.Rasa nyaman : demam
6.Seksualitas :
Perhatikan pada efek dari kondisinya/tetapi kemampuan seksual.
Takut beser kencing selama kegiatan intim.
Penurunan kontraksi ejakulasi.
Pembesaran prostat.
7.Pengetahuan / pendidikan :
Riwayat adanya kanker dalam keluarga, hipertensi, penyakit gula.
Penggunaan obat antihipertensi atau antidepresan, antibiotika / antibakterial untuk saluran kencing, obat alergi.

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN BPH

No.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Rencana Tindakan
1.
Perubahan pola eliminasi urin ; sehubungan dengan :
Mekanisme obstruksi : bekuan darah, edem, truma, prosedur pem-bedahan.
Tekanan dan iritasi kateter / balon
Kehilangan tonus kandung kemih aki bat over distersi pada preoperasi atau dekom-presi terus-menerus.
ditandai dengan :
Sering kencing, dys uria, inkontinensia, retensi urin.
Blas penuh, supra-pubis tidak nyaman.

Tujuan : Jumlah urine normal dan tanpa retensi.

Kriteria :
1.Klien mampu mengosongkan kandung kencing setiap 2 - 4 jam.
2.Klien mampu me-lakukan perineal exercise.
3.Klien B.a.k 1500 cc / 24 jam.

Kaji pengeluaran urine dan sistem drainage atau kateter terutama selama blader irigasi.
Kaji kemampuan klien untuk mengosongkan kandung kemih contoh, berapa kali klien ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Catat waktu, jumlah, ukur an, urine setelah kateter diangkat.
Anjurkan klien untuk mengo-songkan kandung kemih setiap 2 - 4 jam.
Anjurkan klien banyak minum 2500 - 3000 cc per hari jika tidak ada kontra indikasi. Kurangi minum pada malam hari setelah keteter dilepaskan.
Anjurkan klien untuk perineal exercise, contoh dengan mengerutkan bokong, menahan urine, baru mengalirkan urine.

2.
Resiko tinggi untuk kekurangan volume cairan : sehubungan dengan :
Perdarahan pada area pembedahan
Pembatasan intake preoperasi.
ditandai dengan :
Post TUR Prostat hari ke II
Masih terpasang kateter dan irigasi drip NaCl 0,9 %
Tujuan : Kebutuhan cairan klien terpenuhi.


Kriteria : Jumlah cairan yang masuk dan keluar seimbang
Catat cairan yang masuk dan keluar tiap 8 jam dan total dalam 24 jam.
Kaji mukosa mulut dan kekenyalan kulit.
Observasi tanda vital tiap 4 jam atau sesuai kebutuhan.
Berikan cairan peroral atau infus sesuai program medik ( 2500 - 3000 cc / 24 jam ).

3.
Resiko tinggi untuk infeksi : sehubungan dengan :
Prosedur invasif, instrumentasi sela-ma operasi, kateter, seringnya irigasi kandung kemih.
Jaringan traumatik, insisi bedah.
Refluk urine ke dalam kandung kemih.
Terbukanya sistem drainage urine.
ditandai dengan :
Post TUR Prostat hari ke II
Masih terpasang kateter dengan irigasi drip NaCl 0,9 %.

Tujuan : klien terhindar dari re-siko infeksi salur an kemih.
Kriteria :
Tanda vital dalam keadaan normal.
Urine bersih dan jernih.
Tidak terasa nyeri.

Memasang dan melepaskan kateter dengan cara aseptik dan antiseptik.
Rawat kateter dengan tehnik aseptik dan antiseptik.
Cegah terjadinya refluks urine yaitu kembalinya urine ke kandung kemih.
Dengan cara : menggantung urine bag lebih rendah dari kandung kemih.
Dan klem kateter bila akan memindahkan klien.
Gunakan tehnik aseptik pada saat mengosongkan urine bag.
Ganti kateter setiap 7 - 10 hari dengan tehnik aseptik .
Irigasi kateter dilakukan dengan tehnik aseptik dan antiseptik
Anjurkan klien banyak minum 2500 cc - 3000 cc / hari bila tidak ada kontra
indikasi
Mengukur / mengamati tanda kardinal klien setiap 4 jam atau sesuai
kebutuhan.
Kolaborasi dengan Tim medis untuk penberian antibiotik atau pemeriksaan
diagnostik

4.
Nyeri akut : sehubungan dengan :
Iritasi mukosa kandung kemih.
Spasme otot sehubungan dengan prosedur operasi atau penekanan dari balon (traksi)
ditandai dengan :
Dilaporkannya adanya nyeri pada pangkal alat kelamin dari perut bagian bawah.
Wajah meringis kesakitan.
Respon autonomik

Tujuan : nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria :
Klien dapat mengontrol nyeri dengan menggunakan skala nyeri 1 - 10
Klien tampak rileks.
Klien dapat beristirahat dengan tenang
Kaji intensitas nyeri dengan skala 1- 10.
Fiksasi kateter dengan cara yang tepat agar tetap stabi sehingga tidak menimbulkan gesekan baru pada mukosa urethra.
Fiksasi selang urine pada alat tenun disamping klien dengan menggunakan peniti atau klem yang telah tersedia pada set urine bag.
Gunakan kateter menetap dengan nomor atau ukuran yang sesuai agar tidak menimbulkan iritasi pada urethra.
Anjurkan pada klien untuk tehnik relaksasi dengan cara menarik napas panjang dan menghembuskannya.
Hindari gerakan atau tarikan mendadak pada selang kateter untuk menghindari trauma baru pada urethra.
Kempiskan balon kateter sampai habis sebelum melepaskan kateter dan keluarkan kateter secara perlahan.
Kolaborasi pemberian analgetik dengan medik bila diperlukan.
5.
Resiko tinggi untuk disfungsi seksual: sehubungan dengan :

Situasi krisis (inkontinensia, kondisi area genital)
Perubahan status kesehatan.
ditandai dengan :
Pola berkemih saat ini lewat kateter.
Post TUR Prostat hari ke II (kemungkinan ada kerusakan N> Pudendus)

Tujuan : klien dapat menerima dan beradaptasi terhadap keadaannya.
Kriteria :
Klien tampak rileks.
Klien menyatakan cemas berkurang.


Diskusikan bersama klien tentang anatomi dan fisiologi fungsi seksual secara singkat.
Jelaskan pada klien tentang tujuan dan manfaat pemakaian kateter yang menetap.
Anjurkan klien untuk berdialog dengan sesama klien yang menggunakan kateter.
Berikan kesempatan pada klien untuk saling mengungkapkan perasaan dengan pasangannya.
Ciptakan suasana humor pada saat merawat klien. Bila perlu konsulkan pada psikolog atau seksolog.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan pada pasien post TUR Prostat adalah sebagai berikut :

1.Perubahan pola eliminasi uri ; sehubungan dengan :
Mekanisme obstruksi : bekuan darah, edem, truma, prosedur pembedahan.
Tekanan dan iritasi kateter / balon
Kehilangan tonus kandung kemih akibat over distersi pada preoperasi atau dekompresi terus-menerus.
ditandai dengan :
Sering kencing, dysuria, inkontinensia, retensi urin.
Blas penuh, suprapubis tidak nyaman.
Tujuan : Jumlah urine normal dan tanpa retensi.
Kriteria :
1.Klien mampu mengosongkan kandung kencing setiap 2 - 4 jam.
2.Klien mampu melakukan perineal exercise.
3.Klien B.a.k 1500 cc / 24 jam.
Intervensi
Kaji pengeluaran urine dan sistem drainage atau kateter terutama selama blader irigasi.
Kaji kemampuan klien untuk mengosongkan kandung kemih contoh, berapa kali klien kekamar mandi untuk buang air kecil.
Catat waktu, jumlah, ukuran, urine setelah kateter diangkat.
Anjurkan klien untuk mengosongkan kandung kemih setiap 2 - 4 jam.
Anjurkan klien banyak minum 2500 - 3000 cc per hari jika tidak ada kontra indikasi. Kurangi minum pada malam hari setelah keteter dilepaskan.
Anjurkan klien untuk perineal exercise, contoh dengan mengerutkan bokong, menahan urine, baru mengalirkan urine.

2.Resiko tinggi untuk kekurangan volume cairan : sehubungan dengan :
Perdarahan pada area pembedahan
Pembatasan intake preoperasi.
ditandai dengan :
Post TUR Prostat hari ke II
Masih terpasang kateter dan irigasi drip NaCl 0,9 %

Tujuan : Kebutuhan cairan klien terpenuhi.
Kriteria : Jumlah cairan yang masuk dan keluar seimbang.
Intervensi :
Catat cairan yang masuk dan keluar tiap 8 jam dan total dalam 24 jam.
Kaji mukosa mulut dan kekenyalan kulit.
Observasi tanda vital tiap 4 jam atau sesuai kebutuhan.
Berikan cairan peroral atau infus sesuai program medik ( 2500 - 3000 cc / 24 jam ).

3.Resiko tinggi untuk infeksi : sehubungan dengan :
Prosedur invasif, instrumentasi selama operasi, kateter, seringnya irigasi kandung kemih.
Jaringan traumatik, insisi bedah.
Refluk urine ke dalam kandung kemih.
Terbukanya sistem drainage urine.
ditandai dengan :
Post TUR Prostat hari ke II
Masih terpasang kateter dengan irigasi drip NaCl 0,9 %.
Tujuan : klien terhindar dari resiko infeksi saluran kemih.
Kriteria :
- Tanda vital dalam keadaan normal.
- Urine bersih dan jernih.
- Tidak terasa nyeri.
Intervensi :
Memasang dan melepaskan kateter dengan cara aseptik dan antiseptik.
Rawat kateter dengan tehnik aseptik dan antiseptik.
Cegah terjadinya refluks urine yaitu kembalinya urine ke kandung kemih.
Dengan cara : menggantung urine bag lebih rendah dari kandung kemih.
Dan klem kateter bila akan memindahkan klien.
Gunakan tehnik aseptik pada saat mengosongkan urine bag.
Ganti kateter setiap 7 - 10 hari dengan tehnik aseptik .
Irigasi kateter dilakukan dengan tehnik aseptik dan antiseptik
Anjurkan klien banyak minum 2500 cc - 3000 cc / hari bila tidak ada kontra
indikasi
Mengukur / mengamati tanda kardinal klien setiap 4 jam atau sesuai
kebutuhan.
Kolaborasi dengan Tim medis untuk penberian antibiotik atau pemeriksaan
diagnostik
4.Nyeri akut : sehubungan dengan :
Iritasi mukosa kandung kemih.
Spasme otot sehubungan dengan prosedur operasi atau penekanan dari balon (traksi)
ditandai dengan :
Dilaporkannya adanya nyeri pada pangkal alat kelamin dari perut bagian bawah.
Wajah meringis kesakitan.
Respon autonomik
Tujuan : nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria :
Klien dapat mengontrol nyeri dengan menggunakan skala nyeri 1 - 10
Klien tampak rileks.
Klien dapat beristirahat dengan tenang.

Intervensi :
Kaji intensitas nyeri dengan skala 1- 10.
Fiksasi kateter dengan cara yang tepat agar tetap stabi sehingga tidak menimbulkan gesekan baru pada mukosa urethra.
Fiksasi selang urine pada alat tenun disamping klien dengan menggunakan peniti atau klem yang telah tersedia pada set urine bag.
Gunakan kateter menetap dengan nomor atau ukuran yang sesuai agar tidak menimbulkan iritasi pada urethra.
Anjurkan pada klien untuk tehnik relaksasi dengan cara menarik napas panjang dan menghembuskannya.
Hindari gerakan atau tarikan mendadak pada selang kateter untuk menghindari trauma baru pada urethra.
Kempiskan balon kateter sampai habis sebelum melepaskan kateter dan keluarkan kateter secara perlahan.
Kolaborasi pemberian analgetik dengan medik bila diperlukan.

5.Resiko tinggi untuk disfungsi seksual: sehubungan dengan :
Situasi krisis (inkontinensia, kondisi area genital)
Perubahan status kesehatan.
ditandai dengan :
Pola berkemih saat ini lewat kateter.
Post TUR Prostat hari ke II (kemungkinan ada kerusakan N> Pudendes)

Tujuan : klien dapat menerima dan beradaptasi terhadap keadaannya.
Kriteria :Klien tampak rileks,Klien menyatakan cemas berkurang.

Intervensi :
Diskusikan bersama klien tentang anatomi dan fisiologi fungsi seksual secara singkat.
Jelaskan pada klien tentang tujuan dan manfaat pemakaian kateter yang menetap.
Anjurkan klien untuk berdialog dengan sesama klien yang menggunakan kateter.
Berikan kesempatan pada klien untuk saling mengungkapkan perasaan dengan pasangannya.
Ciptakan suasana humor pada saat merawat klien. Bila perlu konsulkan pada psikolog atau seksolog.

6.Kurangnya pengetahuan: sehubungan dengan :
Misinterpretasi informasi
Tidak familiar dengan informasi yang ada.
ditandai dengan :
Sering bertanya
Menanyakan ulang informasi
Kondisi miskonsepsi
Menunjukkan secara verbal masalahnya.
Tidak adekuat dalam mengikuti instruksi.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan pengetahuan klien meningkat
Kriteria :
Klien memahami tentang : pengertian, tanda dan gejala, prognosa, perawatan dan pengobatan
Intervensi :
Kolaborasi dengan medik untuk menjelaskan pada klien tentang pengertian, tanda dan gejala, prognosa serta pengobatan
Diskusi bersama klien untuk mencegah infeksi saluran kemih
Diskusikan tentang cara mempertahankan aliran urin
Diskusikan cara mempertahankan volume cairan tubuh


7. Potensial terjadinya sumbatan/obstruksi aliran urin sehubungan dengan :
Penyumbatan lubang /lumen kateter selang urin karena endapan urine atau bekuan darah
Tertekuk atau terpelintirnya kateter
Tujuan : Kelancaran aliran urine dapat dipertahankan
Kriteria :
Urine keluar lancar, 1500 cc/24 jam
Intervensi :
Jaga kateter atau selang urine tidak tertekuk/terpelintir
Gantung urine bag lebih rendah dari kandung kemih
Bila selang urine terlalu panjang, gulung dan difiksasi diatas tempat tidur disamping klien
Lakukan irigasi kateter bila macet (kolaborasi dengan dokter)
Berikan cairan peroral atau infus 2500 - 5000 cc/24 jam (kolaborasi dengan dr)

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Alfaro, R. (1986). Application of Nursing Proces : Step by Step Guide, Philadelphia : J.B. Lipincot Company.

Donna D. Ignatavius, Kathy A.H, (1997), Medical Surgical Nursing, 2nd Edition, W.B. Saunders Co., Philadelphia.

Doenges M.E. (1989), Nursing Care Plan, Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ), . Philadelpia, F.A. Davis Company.

Luckmann, J (1997), Saunders Manual Of Nursing Care, W.B. Saunders Co, Philadelphia.

Long; BC and Phipps WJ (1985) Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach, St. Louis. Cv. Mosby Company.

Luckman N Sorensen, (1994), Medical Surgical Nursing, Fourth edition, W.B. Saunders Co., Philadelphia.

Sjamsu, R. Hidajat, Wim de Jong, (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta.

Staf Pengajar FK- UI ( Bagian Bedah ), (1995), Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Bina Rupa Aksara, Jakarta.

Label : Phone Cell Wallpapers Game Phone Free Games Free car body design

18 Maret 2010

Author: mbah jito OK la..yaw // Category:

Label : Phone Cell Wallpapers Game Phone Free Games Free car body design

Infeksi Saluran Kemih

Author: mbah jito OK la..yaw // Category:
Nama : Risma Yuni Prahita
Kelas : D/KP/VI
NIM : 04.07.1736

Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah ditemukannya bakteri pada urin di kandung kemih, yang umumnya steril. Istilah ini dipakai secara bergantian dengan istilah infeksi urin. Termasuk pula berbagai infeksi di saluran kemih yang tidak hanya mengenai kandung kemih (prostatitis, urettritis). . (Mansjoer, 2001)
Dikatakan bakteriuria positif pada pasien asimtomatis bila terdapat lebih dari unit koloni bakteri dalam sampel urin porsi tengah (mid stream), sedangkan pada pasien simtomatis bisa terdapat jumlah koloni yang lebih rendah. . (Mansjoer, 2001)
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi bakteri yang terjadi pada saluran kemih. ISK merupakan kasus yang sering terjadi dalam dunia kedokteran. Walaupun terdiri dari berbagai cairan, garam, dan produk buangan, biasanya urin tidak mengandung bakteri. Jika bakteri menuju kandung kemih atau ginjal dan berkembang biak dalam urin, terjadilah ISK. Jenis ISK yang paling umum adalah infeksi kandung kemih yang sering juga disebut sebagai sistitis. Gejala yang dapat timbul dari ISK yaitu perasaan tidak enak berkemih (disuria, Jawa: anyang-anyangen). Tidak semua ISK menimbulkan gejala, ISK yang tidak menimbulkan gejala disebut sebagai ISK asimtomatis. (Wikipedia Indonesia)
Macam ISK antara lain:
ISK primer
Berdasarkan adanya gejala sistemik, ISK primer dibagi menjadi dua:
1. ISK lokal, diterapi dengan antibiotika lokal.
ISK dengan gejala sistemik, diterapi dengan antibiotika sistemik. Antibiotika yang sering digunakan yaitu amoksisilin. (Wikipedia Indonesia)
ISK sekunder
ISK ini merupakan akibat dari penyakit atau kelainan yang lain. ISK berulang merupakan pertanda dari ISK sekunder, karena penanganan ISK yang tidak tepat. Penatalaksanaan ISK sekunder sesuai dengan penyebab ISK tersebut. Penyebab ISK sekunder biasanya adalah obstruksi saluran kemih (seperti batu saluran kemih, pembesaran prostat, dan striktur uretra). (Wikipedia Indonesia)

Etiologi
Biasanya bakteri enteric, terutama Escherichia coli pada wanita. Gejala bervariasi tergantung dari variasi jenis bakteri tersebut. Pada pria dan pasien di rumah sakit, 30-40% disebabakan Proteus, Stafilococcus, dan bahkan Pseudomonas. Bila ditemukan, kemungkinan besar terdapat kelainan saluran kemih. Namun harus diperhitungkan kemungkinan besar terdapat kelainan saluran kemih. Namun harus diperhitungkan kemungkinan kontaminasi jika ditemukan lebih dari satu organisme. . (Mansjoer, 2001)
Patofisiologi
Sebagian besar merupakan infeksi asenden. Pada wanita, jalur yang biasa terjadi adalah mula-mula kuman dari anal berkoloni di vulva, kemudian masuk ke kandung kemih melalui uretra yang pendek secara spontan atau mekanik akibat hubungan seksual. Pada pria, setlah prostat terkoloni maka akan terjadi infeksi asenden. Mungkin juga terjadi akibat pemasangan alat, seperti kateter, terutama pada golongan usia lanjut.
Wanita sering menderita penyakit ini karena uretra yang pendek, masuknya kuman dalam hubungan seksual dan mungin perubahan pH dan flora vulva dalam siklus menstruasi, Pada beberapa wanita frekuuensi berkemih yang jarang juga memiliki peran.
Seharus nya bakteri yang masuk dibersihkan oleh mekanisme pertahanan tubuh, namun terdapatnya kelainan anatomi yang sering yang dijumpai adalah nefropati refluks, nefropati analgesic, batu dan kehamilan. Pada pria biasanya akibat batu dan penyakit prostat, sedangkan pada anak-anak karena kelainan kongenital. . (Mansjoer, 2001)
Manifestasi Klinis
Dapat asimtomatis, terutama pada wanita. Biasanya dengan riwayat ISK simtomatis atau dikemudian hari. Terapi singkat biasanya menyebabkan timbulnya ISK simtomatis, akibat reinfeksi organisme yang lebih virulen.
Disuria, frekuensi miksi yan bertambah, dan nyeri suprapubik adalah gejala iritasi kendung kemih. Beberapa pasien mengeluh bau yang tidak menyenangkan atau keruh, dan mungkin hematuria. Bila mengenai saluran kemih atas, mungkin terdapat gejala-gejala pielonefritis akut seperti demam, mual, nyeri pada ginjal. Namun pasien dengan infeksi ginjal, mungkin hanya menunjukkan gejala saluran kemih bawah atau tidak bergejala. . (Mansjoer, 2001)
Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis pasti ditegakkan dengan kultur organisme melalui urin, terutama sampel dari urin porsi tengah. Sampel ini dikirimkan segera ke laboratorium atau dalam waktu 24 jam dalam lemari es dengan suhu 4ÂșC. Bila sulit, ambil urin yang pertama kali dikeluarkan pada pagi hari karena penyimapanan pertama dalam kandung kemih dapat meningkatkan jumlah bakteri.
Pemakaian kateter untuk diagnosis hanya untuk pasien yang memang memakai kateter. Aspirasi suprapubik berguna pada bayi dan dewasa dimana pemeriksaan urin porsi tengah berulang kali tidak menunjukkan hasil karena kontaminasi atau jumlah bakteri yang rendah.
Dipakai test stick untuk mengetahui adanya proteinuria, hematuria, glukosuria, dan pH. Pemeriksaan secara mikroskopik dikatakan positif bila terdapat piuria(>2000 leukosit/ml) pada pasien dengan gejala infeksi saluran kemih. Munhkin ditemukan kuman yang bisa berasal dari kontaminasi vagina. Dicurigai terjadi infeksi bila terdapat > koloni/ml pada kultur dari urin porsi tenah seorang pasien tanpa gejala, atau dikatakan sebagai bakteriuria bermakna. Namun sering pula dijumpai pasien ISK dengan kultur < koloni, atau terdapat pertumbuhan satu golongan kuman, khususnya E.coli, sementara tidak ditemukan kontaminasi dari vagina. Penemuan kuman pada kateter atau pungsi suprapubik juga merupakan diagnostik.
Bila terdapat piuria namun kultur tidak tumbuh, kemungkinan jumlah kuman yang terdapat hanya sedikit, kuman tuberkolosis, kontaminasi dari antiseptik atau antibiotic yang digunakan yang digunakan pasien atau pada alat, kuman tersebut memerlukan media yang khusus (misalnya Ureaplasma urealyticum), terdapat batu atau benda asing dengan infeksi minimal, atau penyakit tubulointerstisial aktif (misalnya nefropati analgesik).
Penapisan adanya bakteriuria hanya perlu dilakukan pada wanita hamil karena terdapat kemungkinan 30-40% berkembang menjadi pielonefritis bila hasilnya positif. (Mansjoer, 2001)
SISTITIS
Adalah istilah untuk Infeksi Kandung Kemih yang sering dialami kaum
wanita .
Gejala nya seperti sering ingin buang air kecil dan terasa nyeri seperti
terbakar , bahkan sering terdapat darah pada saat buang air kecil
.
URETRITIS
Adalah infeksi pada saluran kemih yang sering terjadi pada Pria yang se
ring melakukan aktifitas seksual tanpa memperhatikan Kesehatan
.
PYELONEFRITIS
Adalah infeksi pada pyelum GINJAL yang sangat berbahaya sehingga
dapat terjadi gagal ginjal sehingga perlu CUCI DARAH dengan alat yang
disebut HEMODIALISA.
.
PENCEGAHAN
- Tentu saja kamu harus memperhatikan kaidah kesehatan.
- Memakai air yang diyakini bersih.
- Jangan sering menahan kencing.
- Juga ,jagalah batas pergaulan ..! (http://nusaindah.tripod.com/kesisk.htm)

Tatalaksana
Secara umum tujuan terapi ISK adalah menghilangkan gejala dengan cepat, mengeradikasi kuman patogen, meminimalisasi rekurensi dan mengurangi morbiditas serta mortalitas. Tujuan itu dapat tercapai dengan pemberian antibiotik sambil mencari penyebab.
Penatalaksanaan ISK pada lansia harus dilakukan sedini mungkin agar progresifitasnya tidak berlanjut. Dalam memilih antibiotik harus diperhatikan beberapa hal yaitu efek samping (terutama pada ginjal), harga, resistensi, kepatuhan (compliance), dan interaksi obat. Mengingat adanya penyakit komorbid yang mungkin juga diderita pasien, maka kita perlu mencari tahu obat-obat apa saja yang sedang dikonsumsi pasien, lalu menganalisis apakah obat ISK yang kita berikan akan berinteraksi dengan obat-obatan tersebut.
Antibiotik yang umum digunakan untuk mengobati ISK tidak berkomplikasi pada lansia adalah trimethoprim/sulfamethoxazol (TMP/SMX), fluorokuinolon, fosfomisin, dan nitrofurantoin (Tabel 2).


TMP/SMX telah menjadi obat lini pertama pada ISK non komplikata karena mampu membunuh banyak jenis mikroorganisme, kecuali Enterococcus. Kelebihan lain adalah TMP/SMX tersedia dalam bentuk sirup sehingga cocok digunakan pada lansia yang mempunyai kesulitan menelan. Akan tetapi sekarang sudah mulai tampak kecenderungan resistensi TMP/SMX pada E.coli.
Fluorokuinolon sedikit demi sedikit mulai menggeser TMP/SMX karena tolerabilitas dan compliance-nya lebih baik. Antibiotik ini bisa digunakan pada Gram negatif dan positif tetapi lebih efektif pada Gram negatif. Kadar creatinin clearance perlu dipantau bila kita memutuskan memberi fluorokuinolon. Bila kreatinin klirens kurang dari 0,5 ml/detik, dosis dikurangi.
Fosfomisin diberikan dalam dosis tunggal sehingga compliance pasien lebih baik. Fosfomisin efektif pada Gram negatif tetapi kurang pada Gram positif. Harganya cukup mahal.
Nitrofurantoin tidak boleh diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, yaitu kreatinin klirens kurang dari 0,67 ml/detik. Sayang, sudah tidak tersedia lagi di pasaran.
Kaum lansia lebih rentan terhadap efek samping dan toksisitas antibiotik. Hal itu dikarenakan menurunnya fungsi metabolisme dan ekskresi. Akibatnya, kadar obat dalam serum tinggi dan berpotensi menyebabkan kerusakan ginjal. Oleh karena batas keamanan obat pada lansia sempit, pemilihan antibiotik harus berhati-hati dengan mempertimbangkan kelarutan obat, perubahan komposisi tubuh, status nutrisi (kadar albumin), dan efek samping.
Di samping obat-obatan, terapi nonfarmakologi harus diterapkan. Sayangnya, langkah itu sering terlupakan. Terapi nonfarmakologi mencakup nutrisi dan imobilisasi. Asupan makanan dan cairan perlu disesuaikan hingga optimal sesuai kemampuan penderita. Kita perlu mengusahakan agar makanan yang diberikan habis dimakan. Pasien tidak boleh diimobilisasi terlalu lama untuk mencegah dekubitus.
Dengan adanya diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat, semoga tidak ada lagi kasus 'Paus' berikutnya. (http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=490)

Sumber :

Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius, UI-press.
http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=490
http://nusaindah.tripod.com/kesisk.htm
Label : Phone Cell Wallpapers Game Phone Free Games Free car body design

Author: mbah jito OK la..yaw // Category:

Label : Phone Cell Wallpapers Game Phone Free Games Free car body design